Oleh : Rio Agusto Bintang Nugroho*
Mungkin, Classical
Conditioning bagi para pakar psikologi, maupun mahasiswa psikologi sudah
dijadikan makanan keseharian saat kuliah, tapi mungkin masih sangat jarang di
dengar oleh orang – orang non psikologi. Maka dari itu penulis tertarik untuk
sedikit menjelaskan tentang Classical Conditioning ini.
Tokoh yang mencetuskan teori
ini ialah Bapak Ivan Petrovich Pavlov, Beliau merupakan salah satu bapak
psikologi aliran behaviorisme yang masih sangat dikenal pada masa kini. Beliau
lahir di Rusia pada 1849 dan meninggal di sana pada tahun 1936. Ayahnya adalah
seorang pendeta, dan Pavlov pada mulanya belajar untuk menjadi pendeta. Beliau
berubah pikiran dan menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mempelajari
fisiologi. Pada 1904 beliau memenangkan habeliauh Nobel untuk karyanya di
bidang fisiologi pencernaan. Beliau baru memulai studi refleks yang
dikondisikan pada usia 50 tahun. Salah satu prosedur
yang dilakukan Pavlov dalam
eksperimennya adalah dengan membuat lubang di pipi
anjing dan memasukkan sebuah tabung yang dapat menampung air liur yang
dihasilkan oleh kelenjar liur yang dihasilkan oleh kelenjar liur agar volume
liur tersebut dapat diukur.
Pada mulanya, Pavlov menganggap kejadian
ini merupakan sekresi air liur yang menggangu. Tetapi beliaudengan cepat
menyadari bahwa apa yang dilihat mahasiswanya adalah sebuah fenomena penting,
fenomena yang membuat Pavlov percaya dan akhirnya menjadi dasar bagi proses
belajar pada manusia maupun hewan lainnya. Beliau menyebut fenomena ini
sebagai reflek “kondisional” kondisi karena hal ini tergantung pada kondisi
lingkungan.
Pavlov semula membuat dugaan-dugaan
mengenai apa yang dipikirkan oleh anjing-anjing tersebut dan apa yang mereka
rasakan, yang membuat mereka berliur, sebelum makanan di sajikan. Tetapi
kemudian beliau mengambil
keputusan bahwa mencoba menjelaskan kemampuan mental dari anjing-anjing ini
tidak akan ada gunanya. Sebaliknya,
ia memusatkan perhatiannya pada upaya untuk menganalisis lingkungan dimana
terjadi respons berupa reflex yang terkondisi ini.
Reflek yang mengeluarkan liur
sebenanrnya menurut Pavlov terdiri dari sebuah stimulus tidak terkondisi
(unconditioned stimulus), berupa makanan dan sebuah respons yang tidak
terkondisi (unconditioned response) yaitu produksi liur. Yang dimaksud dengan
stimulus tidak terkondisi menurut Pavlov adalah sebuah kejadian atau satu hal
yang menghasilkan sebuah respons secara otomatis atau menghasilkan reflek yang
otomatis. Sedangkan respons tidak terkondisi adalah respons yang dihasilkan
secara otomatis tadi.
Menurut Pavlov, proses pembelajaran
terjadi ketika sebuah stimulus netral (stimulus yang tidak atau belum
menghasilkan sebuah respons tertentu, seperti berliur) dipasangkan secara
teratur dengan sebuah stimulus tidak terkondisi selama beberapa kali. Stimulus netral ini
kemudian akan berubah menjadi stimulus yang terkondisi (conditioned stimulus),
yang menghasilkan sebuah proses pembelajaran atau respons terkondisi
(conditioned response), yang biasanya serupa dengan respons alamiah yang tidak
perlu dipelajari. Dalam laboratoriumnya, terlihatnya piring makanan anjing,
yang sebelumnya tidak menghasilkan liur pada anjing, menjadi sebuah stimulus
terkondisi yang menghasilkan respons produksi liur.
*Penulis adalah mahasiswa FISIP UB Program Studi Psikologi
dan merupakan kader HMI K ISIP Brawijaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar