Jumat, 21 September 2012

Classical Conditioning : Salah Satu Pengkondisian Pembentukan kepribadian Manusia

Oleh : Rio Agusto Bintang Nugroho*

Mungkin, Classical Conditioning bagi para pakar psikologi, maupun mahasiswa psikologi sudah dijadikan makanan keseharian saat kuliah, tapi mungkin masih sangat jarang di dengar oleh orang – orang non psikologi. Maka dari itu penulis tertarik untuk sedikit menjelaskan tentang Classical Conditioning ini.

Tokoh yang mencetuskan teori ini ialah Bapak Ivan Petrovich Pavlov, Beliau merupakan salah satu bapak psikologi aliran behaviorisme yang masih sangat dikenal pada masa kini. Beliau lahir di Rusia pada 1849 dan meninggal di sana pada tahun 1936. Ayahnya adalah seorang pendeta, dan Pavlov pada mulanya belajar untuk menjadi pendeta. Beliau berubah pikiran dan menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mempelajari fisiologi. Pada 1904 beliau memenangkan habeliauh Nobel untuk karyanya di bidang fisiologi pencernaan. Beliau baru memulai studi refleks yang dikondisikan pada usia 50 tahun. Salah satu prosedur yang dilakukan Pavlov dalam eksperimennya adalah dengan membuat lubang di pipi anjing dan memasukkan sebuah tabung yang dapat menampung air liur yang dihasilkan oleh kelenjar liur yang dihasilkan oleh kelenjar liur agar volume liur tersebut dapat diukur.

Pada mulanya, Pavlov menganggap kejadian ini merupakan sekresi air liur yang menggangu. Tetapi beliaudengan cepat menyadari bahwa apa yang dilihat mahasiswanya adalah sebuah fenomena penting, fenomena yang membuat Pavlov percaya dan akhirnya menjadi dasar bagi proses belajar pada manusia maupun hewan lainnya. Beliau menyebut fenomena ini sebagai reflek “kondisional” kondisi karena hal ini tergantung pada kondisi lingkungan.

Pavlov semula membuat dugaan-dugaan mengenai apa yang dipikirkan oleh anjing-anjing tersebut dan apa yang mereka rasakan, yang membuat mereka berliur, sebelum makanan di sajikan. Tetapi kemudian beliau mengambil keputusan bahwa mencoba menjelaskan kemampuan mental dari anjing-anjing ini tidak akan ada gunanya. Sebaliknya, ia memusatkan perhatiannya pada upaya untuk menganalisis lingkungan dimana terjadi respons berupa reflex yang terkondisi ini.

Reflek yang mengeluarkan liur sebenanrnya menurut Pavlov terdiri dari sebuah stimulus tidak terkondisi (unconditioned stimulus), berupa makanan dan sebuah respons yang tidak terkondisi (unconditioned response) yaitu produksi liur. Yang dimaksud dengan stimulus tidak terkondisi menurut Pavlov adalah sebuah kejadian atau satu hal yang menghasilkan sebuah respons secara otomatis atau menghasilkan reflek yang otomatis. Sedangkan respons tidak terkondisi adalah respons yang dihasilkan secara otomatis tadi.

Menurut Pavlov, proses pembelajaran terjadi ketika sebuah stimulus netral (stimulus yang tidak atau belum menghasilkan sebuah respons tertentu, seperti berliur) dipasangkan secara teratur dengan sebuah stimulus tidak terkondisi selama beberapa kali. Stimulus netral ini kemudian akan berubah menjadi stimulus yang terkondisi (conditioned stimulus), yang menghasilkan sebuah proses pembelajaran atau respons terkondisi (conditioned response), yang biasanya serupa dengan respons alamiah yang tidak perlu dipelajari. Dalam laboratoriumnya, terlihatnya piring makanan anjing, yang sebelumnya tidak menghasilkan liur pada anjing, menjadi sebuah stimulus terkondisi yang menghasilkan respons produksi liur.

Prosedu
r ini dimana sebuah stimulus netral menjadi sebuah stimulus yang terkondisi disebut sebagai kondisioning klasik (classical conditioning), atau disebut juga sebagai kondisioning Pavlov atau kondisioning responden. Dan semenjak era Pavlov, banyak dari respons otomatis atau yang sifatnya bekerja di luar kehendak kita, selain sekresi air liur, dipelajari dengan metode kondisioning klasik, misalnya detak jantung, tekanan darah, gerak reflek, berkedip dan kontraksi otot.

*Penulis adalah mahasiswa FISIP UB Program Studi Psikologi
dan  merupakan kader HMI K ISIP Brawijaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar