Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 April 2013

Jurnal: DINAMIKA IMIGRAN MUSLIM DI PERANCIS


 Oleh: Modi Alvianto W.

Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya 

ABSTRAK

Imigran Muslim yang datang di Perancis dari tahun 1940-2010 mulai menujukkan peningkatan yang cukup pesat.  Realita ini memunculkan keresahan dari warga asli Perancis khususnya warga kulit putih. Islam pun mulai dikenal khalayak luas terlihat dari banyaknya simbol – simbol yang bertebaran di kota – kota Perancis. Alhasil, Pemerintah Perancis mencoba menerapkan berbagai kebijakan yang diantaranya adalah Sarkozy Law 2. Namun di sisi lain, gelombang muslim terus bermunculan sehingga pada akhirnya parlemen Perancis mulai diisi kaum imigran muslim Perancis.

keyword: Imrigrasi, Muslim, Perancis,  Imigran Muslim.

Senin, 22 April 2013

Jalan Menuju Iman


Oleh: Iqbal Fajar D. R.*

Bismillahirahmanirahim..

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam, dan siang” terdapat tanda-tanda(Ayat) bagi orang yang berakal
(QS. Ali Imran[3]: 190)

Ayat itu adalah ayat yang saya rasa paling istimewa seraya mengigatkan kita tentang keistimewaan manusia sebagai mahluk yang dimuliakan oleh Al-Khaliq. Penciptaan akal untuk manusia ini sesungguhnya dapat dijadikan suatu pembeda bagaimana derajat manusia dibanding mahluk-mahluk Allah SWT yang lainya. Melalui akal manusia mampu mengenali siapa dirinya, apa sebenernya hikmah dia ada, harus bagaimanakah dia menjalani hidupnya, hingga siapa sebenarnya yang men-jadi-kan dirinya kini ada. 
Menafsir adanya sang pencipta sebagai jalan menuju iman, seperti halnya ayat yang telah ada diatas bahwa kita sulit dan tak akan mungkin membuktikan secara empiris bahwasanya Tuhan itu ada karena sifatnya transendental maka dari itu dia bukanlah mahluk. Tapi kita mampu membuktikan bahwa ia ada yang maha pencipta yaitu dengan cara memahami ciptaan-ciptaanya. Alam semesta ini misalnya, sesengguhnya alam semesta ini merupakan suatu himpunan dari benda-benda angkasa yang terbatas, dan kemudian bergerak untuk menjadi satu kesatuan yang dapat kita sebut alam semesta yang dapat sebagian liat dalam teori big bang. Pertanyaan kemudian muncul di benak saya.kemudian siapa yang mennggerakan itu semua, ? bukankah benda-benda itu pada awalnya bersifat terbatas ? dan pertanyaaan yang paling mendasar adalah siapa yang menciptakan benda-benda yang terbatas itu ? 
Kata terbatas dalam fikir saya terdefinisikan sebagai sesuatu yang berawal dan berakahir, ya seperti halnya alam semesta, manusia dan kehidupan ini semua terbatas, karena semuanya dapat terjangkau dengan akal. Ia bersifat serba kurang, terbatas dan lemah, misalnya manusia dalam siklus hidupnya ada yang namanya tumbuh, berkembang dan mati. Dari ada kemudian tiada ini menandakan bahwa manusia memiliki batasan. 
Saya berfikir bahwa segala yang memiliki batasan adalah suatu ciptaan dan ia akan bersandar kepada sesuatu yang sifatnya tak terbatas ‘Azali’ ( yang tak berawal dan tak berakhir). Ia tak memiliki batasan karena dia sebagai pencipta suatu ciptaan. Tentunya ia berbeda dengan ciptaanya, kita ambil analogi misalnya  ketika manusia menciptakan sebuah lukisan, hiasan atau bahkan robot, itu semua disbut benda dan tak mungkin disebut sebagai mahluk karena manusia sendiri adalah mahluk. Dari anologi seperti ini dapatlah kita ketahuai bahwa yang menciptakan kita (mahluk) bukanlah sesuatu yang sama halnya dengan kita, ia yang tak mungkin terjamah secara empiris oleh segala kemampuan yang dimiliki oleh mahluknya. Dia adalah sumber dari segala sesuatu yang dapat terjamah oleh akal ini. lantas timbul pertanyaan kembali difikira saya, apakah dia juga diciptakan ? siapa yang menciptakan dia ? 
Bahwasanya dia bersifat ‘Azali’ (tak berawal dan tak berakhir) dia tak diciptakan dan tak berakhir  karena dia berbeda dengan mahluknya. Dia juga tak mungkin menciptakan dirinya sendiri karena tidak mungkin sesuatu yang ‘Azali’ yaitu sang Khaliq dalam waktu bersamaan menjadi mahluk yang bersifat terbatas dan terciptakan, itu sangatlah tidak mungkin. oleh karena itu ia disebut ‘wajibul wujud’ (harus ada) karena dia adalah sandaran dari sesuatu yang harusnya tiada menjadi ada. 
Dari runtutan logika diatas bahwa Allah- lah yang hanya memiliki sifat-sifat ‘Azali’ dan wajibul wujud maka ia adalah sebenar-benarnya tuhan, tempat dimana segala sesuatu keterbatasan  bersandar kepada sesuatu tak terbatas. Dengan mengimani adanya Allah sebagi tuhan maka secara otomatis kita harus pula memyakini kebenaran-kebenaran yang telah dikabarkanya kepada kita seperti halnya Al-Qur’an, rasul Allah yang akan semakin membawa kita kepada akar keimanan yang semakin dalam. 
Jadi pada intinya pembahasan diatas bahwa keimanan haruslah muncul dari suatu kebenaran yang telah teruji oleh akal budi manusia walaupun terbatas akan teapi dengan akal budi lah logika dari alasan keimanan kita dapat terpuaskan. Memang benar jika fitrah dari manusia adalah beriman kepada pencipta, kepada sesutau yang kuasa, esa dan maha segalanya akan tetapi itu hanya muncul dari perasaan hati manusia yang mudah tertipu dan lemah. bahaya ketika manusia hanya beriman atas naluri perasaanya karena perasaan yang  lemah akan kemudian serig kali menambah-nambahkan sesuatu yang tak mempunyai hakekat sama sekali. Ini akan membengkokan keimananya kepada hal-hal yang sesat dan jauh dari kebenaran. Maka harus ada penyelarasnya yaitu akal yang dapat merasionalkan alasan keimanan kita. 
Namun demikian, kita juga janganlah lupa bahwa akal bukanlah segala-galanya. Akal juaga bagian dari ciptaan yang tentunya bersifat terbatas dalam usaha mengimani kebenaran Allah pastilah ada titik dimana akal tak mampu menjangkaunya karena keterbatasan akal. Karena kesadaran akan keterbasan akal inilah yang seharusnya menambah tingkat keimanan kita bahwa ia memang Al-Khaliq suatu zat yang maha suci yang tak terjamah oleh akal manusia.dengan akal kita hanya mampu memahami dan mengimani adanya Allah sebagai Al-Khaliq tapi sangatlh sulit bahkan mustahil kita untuk memahami zat atau wujudnya akal manusia hanya mampu menafsirnya dari ciptaanya. kesemuaan dari tulisan ini membuktikan bahwa islam adalah agama Allah yang menganjurkan umatnya untuk menggunakan akal sebagai salah satu alat penimbang dalam beriman kepada Allah.
Wassallam.,.

“Islam tidak membiarkan perasaan hati yang berasal dari nurani sebagai jalan satu-satunya menuju iman”

*Tulisan ini hanya berusaha mengartikulasikan kembali tentang buku karya Taqiyudin an- nabhani yaitu “Peraturan Hidup Dalam Islam”bab ‘Jalan Menuju Iman’  yang telah tuntas saya baca agar terlihat sederhana dan dapat dicerna oleh nalar secara mudah.

*Penulis adalah mahasiswa ilmu politik FISIP Universitas Brawijaya
dan  juga Anggota HMI K ISIP Brawijaya. 

Minggu, 07 Oktober 2012

Tolak NII

Oleh : Iqbal Fajar Dwiranda*

Era pasca orde baru memberikan suatu euforia kebebasan seseorang ataupun kelompok tertentu dalam berideologi, yang mana sebelumnya nilai-nilai pancasila begitu diterapakan secara ketat di indonesia, seperti halnya kelompok-kelompok islam fundamentalis yang mempunyai gagasan keinginan untuk merubah azas bahkan ideologi negara indonesia menjadi berideologikan islam atau menjadi negara islam. Contohnya timbulnya gerakan Darul Islam (DI) yang kehadiranya mempunyai tujuan untuk berusaha mengubah negara bangsa menjadi negara agama islam, mengganti ideologi negara pancasila dengan islam versi mereka, atau bahkan menghilangkan NKRI dan menggantinya dengan khilafah islamiyah. 

Kelompok seperti ini memang terkadang beranggapan benar bahwa kekuasaan hanya milik Allah SWT, tetapi tak seorang pun yang sepenuhnya memahami kekuasaan Allah SWT. mereka mencoba merubah islam dari agama menjadi ideologi dimana islam menjadi dalih dan senjata politik untuk menkerdilkan dan menyerang siapapun dan kelompok manapun yang pandangan politik dan pemahaman keagamaanya berbeda dari mereka. Dalih memperjuangkan islam sebenarnya adalah memperjuangkan suatu agenda politik tertentu dengan menjadikan agama mayoritas yaitu islam sebagai kemasan dan alat politiknya. Langkah ini dinilai memang ampuh karena orang yang melawan mereka dianggap melawan islam yang mana masyarakat kita mayoritasnya beragama islam. Pada saat yang sama kelompok tersebut juga berdalih memperjuangkan dan membela islam, mereka berusaha menolak budaya dan tradisi yang selama ini telah mengakar kuat di kehidupan bangsa indonesia, mereka ingin menggantinya budaya dan tradisi dan budaya islam.

Dengan melihat dan menganalisis maksud dibalik tujuan pembentukan negara yang berideologikan islam, saya pribadi menolak keras tentang segala konsep apapun mengenai pembentukan  indonesia sebagai negara yang berideologikan islam. Karena menurut saya hal ini akan menghianati pancasila maupun diman nantinya akan timbul perpecahan bangsa dan di dalam islam sendiri ini akan menghilangkan nila-nilai luhur islam dari agama agama yag penuh dengan kasih sayangdan toleran menjadi bentuk ideologi yang sempit dan kaku. Selain itu saya juga menganalisis bahwa timbulnya gerakan islam garis keras tersebut merupakan salah satu proyek wahabisasi global, menegakan khilafah isamiyah, atau islamisasi negara indonesia dan melenyapakan NKRI dan saya sangat tidak setuju dengan ini karena sikap  tanpa toleransi dalam beragama tidak pernah memberi ruang pada perbedaan dan keberagaman yang tidak toleran tersebut akan menjadi ancaman tidak hanya terhadap keamanan dan keselamatan bangsa indonesia, tetapi juga terhadap budaya dan tradisi keberagaman bangsa indonesia.

Review Buku : On The Sociology of Islam

Oleh : Iqbal fajar dwiranda*


Didalam islam terdapat  berbagai tahapan- tahapan cara untuk mempermudah umatnya dalam memahami islam. Dengan  cara memahami tuhan kita Allah dan kemudian mencoba mebandingkan dengan sesembahan dari Agama lain atau memahami Al-Qur’an sebagai kitab suci kita dan kemudian mencoba membandingkanya dengan kitab-kitab agama lain ( atau yang dikatakan sebagai kitab dari agama-agam samawi). Selain itu cara lainya adalah mencoba memahami kepribadian besar yang dimiliki rasul kita yaitu Nabi Muhammad SAW dan kemudian coba dibandingkan dengan pembawa risalah dari agama lain. Tidak hanya itu kita juga harus mengenal tokoh-tokoh besar yang menjadi produk dari agama islam dan coba membandingkan pemikiran-pemikiranya yang terpengaruh dengan ajaran islam dengan tokoh-tokoh besar dari agama lain  yang secara pemikiranya  telah juga terpengaruh dengan ajaran agama dari mereka sendiri.

Dengan tidak meninggalkan  metode cara memahami islam yang telah dipaparkan diatas,  Dr.Ali syariati ,dalam bukunya on the sociology of islam, coba mengigatkan kepada kita bahwa sebenarnya tugas seorang intelektual islam adalah membawa aliran- aliran pemikiran  disetiap bidang-bidang studi yang digelutinya yang tujuannya untuk membangkitkan kehidupan manusia entah itu secara perseorangan, kelompok, atau dalam lingkup masyrakat sosial. Bila kemudian kita sadari akan hal itu, sebenarnya manusia mempunyai tugas yang berat dalam mengembanya. Manusia mempunyai tanggunng jawab atas dirinya sendiri, kelompok sosialnya maupun masyrakat sosial secara luas untuk merubah kearah yang lebih ideal.

Dr. Ali syariati adalah seorang sosiolog muslim, oleh karena itu beliau mencoba memahami kebenaran-kebenaran ajaran islam melalui perspektif ilmu sosiologi dengan menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber referensi rujukanya maupun sebagai kepustakaan islam. Sebenarnya kalau kemudian kita sadari banyak di dalam Al-Qur’an tedapat konsep-konsep tentang keilmuan yang bermanfaat yang dapat dipelajari secara ilmu manusiawi. Sebagai contonya adalah ilmu ‘kaunniyah’ yang membahas tentang ilmu-ilmu alam atau gejala-gejala semesta alam yang kemudian secara keilmuan manusiawi dapat dibedah dengan memakai ilmu fisika. Akan tetapi, dalam buku ini kita tidak akan membahas masalah tersebut.

Dalam buku ini kita akan membahas tentang sesuatu yang biasanya jarang atau bahkan tidak pernah kita bahas maupun kita sadari, Dr. Aii syariti menemukan berbagai konsep sosiologi maupun historis yang terkandung dalam Al-Qur’an. Salah satu diantaranya mengenai konsep Hijrah. Hijrah mungkin dalam pandangan orang muslim adalah berpindahnya umat islam pada zaman Rasulullah dulu dari mekkah menuju madinah pada waktu itu. Hijrah secara pandangan umumnya hanyalah suatu kejadian historis dimana hanya dimaknai dengan adanya perpindahan suatu masyarakat dari tempat awal dia berada menuju ketempat yang baru. Kalo kita memahami secara dalam tentang konsep hijrah, dapat kita lihat melalui pandangan ilmu sosiologis dan historis bahwasanya konsep hijrah  adalah konsep yang mempengaruhi  suatu peradaban masyarakat.

Hijrah dimaknai sebagai suatu faktor yang merubah suatu masyarkat  tidak hanya dimaknai  perpiindahan tempat akan berubahnya suatu peradaban maupun budaya dari masyarakat  yang awalnya mengalami stagnasi  menuju suatu kondisi peradaban yang lebih maju. Suatu  masyarakat primitif akan tetap sebagai masyarakat primitif jika kemudian mereka tidak melakukan hijrah . perubahan akan kemudian terjadi disaat  masyarkat mengalami suatu pembaharuan .

Dalam memahami islam, kita memiliki suatu metodologi yang tepat dimana dalam memahami islam metodologi yang kemudian kita pakai adalah mensegmentasikan pemahaman tentang islam dengan menggunakan displin ilmu yang memang cocok dengan metode yang digunakan.

Dr. Ali syariati juga coba memperlihatkan bahwa manusia  memiliki kedudukan yang mulia dimata agama. Dimana manusia mempunyai tanggung jawab yang mulia untuk menjadi khalifah di muka bumi, tugas yang diemban manusia memiliki tanggung jawab atas yang terjadi pada dirinya ataupun tanggung jawab dia .didalam lingkungan masyarakat.

Dalam  pembahasan secara anthropologi yaitu membahas kejadian manusiaa serta kontradiksi antara Allah dan iblis atau antara roh dan lempung. Bab ini juga masih ada korelasinya dengan eksistensi manusia menurut fitrahnya. Bab ini menceritakan tentang manusia yang kemudian dihadapkan pada suatu pilihan kepada sesuatu yang haq dan yang bathil. Manusia didalam dirinya terdapat dorongan akan dua pilihan jalan yang terbentang di kehidupanya. Karena manusia adalah mahluk yang bidimensional maka dari itu manusia dibagi manjadi 2 fitra yang salah satunya manusia harus memilihnnya. Selain itu  agam islam adlah suatu jalan dan cara untuk menuju fitrah baik manusia.



Pembahasan filosofi habil dan qobil dalam buku ini menggambarkan berbagai fenomena soasial yang terjadi sampai pada hari ini dimana itu semua digambarkan pada peristiwa yang terjadi pada 2 keturunan agama tersebut. Fenomena pembunuhan yang dilakukan qobil terhadap habil mengandung noumena yang dalam, begitipula fenomena sexualitas juga di bahas di dalamnya, tidak hanya itu fenomena habil dan qabil ljuga menggambarkan akan  dinamika kelas sosial yang ada dalam kehidupan manusia. 



*Penulis adalah mahasiswa program studi Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya
dan merupakan kader HMI K ISIP Brawijaya