Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

Jawab Sang Matahari...



Oleh : Muhamad Erza Wansyah*


Matahari, kau panas..
Kau menyilaukan..
Bikin gerah..
Bisa apa kau?

Gara-gara matahari, kulitku jadi belang..
Gara-gara dia, kulitku melepuh..
Gara-gara dia, bau badanku menjadi-jadi..
Masa harus beli deodorant lagi??

Kata dokter, kau bisa bisa menyebabkan kulit kasar…
Flek-flek hitam jadi bermuculan..
Komedo makin menjamur..
Huft, bahkan kau dapat menciptakan kanker kulit..
Kenapa kau begitu jahat?
Jawab matahari, jawab!!!!

Salahku kah?
Kenapa? Kenapa kau selalu menghujatku?
Tak tahu kah kau bahwa ku lelah mengelilingi bumimu?
Tak pernah kau melihat niatku tuk menghidupimu?
Tak bisa kah kau bayangkan bumi tanpa cahayaku?
Bahkan kulahirkan hujan demi tenggorokan keringmu…

Jika kau merasa panas, kenapa kau tetap berlaku buruk..
Kau hanguskan hutan-hutan...
Kau penuhi bumimu dengan asap tranportasi..
Kau sebarkan gas harum demi keindahanmu..
Lalu, kau masih mau menyalahkanku?

Tanpaku, mungkin kau hanya bisa menggunakan pakaian basah..
Atau, kau habiskan bulu-bulu domba di alammu demi kehangatan..
Pohon hijau apa yang nantinya tumbuh?
Yang ada hanya birunya es yang beku..
Lalu apa fungsi kapal laut?

Rabu, 05 September 2012

Resensi Buku : The Alchemist



Siapa yang tidak pernah bermimpi? Terkadang kita merasakan mimpi seperti nyata, bahkan ada yang benar-benar menjadi nyata. Itulah yang dialami oleh seorang pengembala domba yang tinggal di Andalusia. Berawal dari mimpinya tentang harta karun membuatnya merantau menelusuri banyak negara. Di perjalanannya ia menemukan banyak orang yang memberinya motivasi untuk melanjutkan mimpinya. Hitam Putih perjalanannya terus berlanjut hingga cerita berakhr dengan bahagia. Layaknya novel lain, dalam karya Paulo Coelho ini juga disisipkan kisah cinta dari tokoh utama. Namun sedikit berbeda, dengan ceritanya yang mengisahkan kematangan cinta, bukan sekedar cinta-cintaan yang banyak dikisahkan novel lain.

Diksi yang digunakan penuh dengan unsur semiotika, namun dengan pengemasan yang cukup sederhana sehingga mudah dimengerti dan dapat membawa pembaca ke dalam alur ceritanya. Memang bukan cerita yang penuh teka-teki sulit ditebak, karena ketika membacanya, saya pun memiliki asumsi sendiri tentang endingceritanya. Namun proses menuju ending tersebutlah yang menjadi inti di novel ini. Bagaimana Santiago, si pengembala domba tersebut cara menghadapi sebuah pilihan, mengatasi masalah, hingga berisi tentang bagaimana seseorang harus memaknai cinta. Sedikit fiktif namun dapat membuat pembaca terenyuh.

Novel ini dipenuhi dengan pesan-pesan moral tentang kehidupan yang dikemas dalam bentuk kutipan-kutipan bijak (bisa di lihat di bagian paling bawah). Cocok untuk orang yang sering berkecimpung d jejaring sosial (sering update status, justkid :p ). Pesan-pesan yang disampaikan sedikit banyak dapat menginspirasi kita. Dari situlah Paulo Coelho kaya akan apresiasi, meski tak membuatnya luput dari kiritikan atas karyanya yang beberapa bagian certanya dinilai mirip dengan karya penulis lain.

Buku ini diterbitkan th. 1998 di Brasil dalam bahasa Portugis. Pada th. 1993, buku ini hadir dengan bahasa Inggris. Dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia serta diterbitkan secara resmi oleh Gramedia di tahun 2006.

Untuk para mahasiswa yang males baca buku, buku ini recommended bangetttt..

Quote of The Alchemist :

"Mengapa kita harus mendengarkan kata hati kita? Sebab dimana hatimu berada disanalah hartamu berada" 

"Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjukan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air di sendokmu." 

"Karena itulah aku ingin kau meneruskan mencari impianmu. Kalau kau merasa harus menunggu sampai perang berakhir, tunggulah. Tapi kalau kau merasa harus pergi sekarang juga, pergilah mengejar mimpimu. Bukit-bukit pasir ini senantiasa berubah dihembus angin, akan tetapi padang gurun itu tak pernah berubah. Begitu pula cinta kita." 

"Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati... bukan cinta yang berbicara Bahasa Dunia." 

"Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. Berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini. Hidup ini akan terasa seperti sebuah pesta bagimu, sebuah festival meriah, sebab hidup ini adalah saat yang kita jalani sekarang ini." 

Dan masih banyak lagi.. :D :D :D :D

Sumber : http://actifree.blogspot.com/2012/08/resensi-alchemist.html

Liberalisme Dan Patriakarlisme

Oleh : Eki Sulisityo*

            
Benn dan Gaus’s memperhitungkan konsep liberalism mengenai publik dan private telah menilustrasikan dengan baik beberapa masalah pokok dalam teori liberal. Mereka menerima bahwa private dan publik adalah kategori pokok dalam dari liberalism, tetapi mereka tidak menjelaskan kenapa dua istilah ini rumit atau mengapa lapisan ‘private’ kontras dan berlawanan terhadap ‘publik’ daripada terhadap ‘dunia politik’. Penilaian liberalism oleh Benn dan Gaus juga mengilustrasikan keabstraknya, karaktek secara historis dan, apa yang dibenarkan dan dihilangkan, menyediakan contoh yang bagus dari diskusi secara teori yang dikritik secara tajam oleh para feminis.


Istilah ‘ideologi’ sesuai untuk digunakan disini karena adanya ambigu dalam konsep liberal mengenai privte dan publik yang kabur dan menajubkan membantu untuk mendasari hal tersebut. Para feminis berargumen bahwa liberalism tersusun oleh patriarkal seperti halnya hubungan kelas, dan bahwa itu dikotomi antara private dengan publik yang mengaburkan subjektivitas antara perempuan dengan laki-laki di dalam sesuatu yang universal, paham persamaan, dan kepentingan pribadi. Benn dan Gaus menasumsikan bahwa realita kehidupan sosial kita adalah lebih atau kurang cukup menangkap konsep liberalsm. Mereka tidak mengenali bahwa liberalism adalah liberalism patriakal dan itu adalah pemisahan dan pembedaan antara perempuan dengan laki-laki, mereka hanya mengamsumsikan sebagai individualism dalam konsep liberal.

Salah satu alasan mengapa hasil ini tidak di perhatikan adalah bahwa pemisahan antara private dan publik telah ada dalam teori liberal seperti jika ini diterapkan pada semua individu dengan jalan yang sama. Ini sering di klaim - oleh para anti-feminis masa kini, tetapi oleh para ferminis abab 19, kebanyakan menerima doktrin ‘lapisan pemisah’- bahwa dua lapisan tersebut adalah terpisah, tetapi sama-sama penting dan berharga. Cara dimana perempuan dan laki-laki dibedakan terletak pada kehidupan individu dan dunia publik


*Penulis adalah mahasiswa FIA UB 2008
Juga merupakan Anggota 
HMI Komisariat FIA Brawijaya