Sabtu, 02 Maret 2013

Apa itu Politik?


Oleh : Wimmy Haliim, S.IP
  

sampai saat ini tidak ada definisi pasti tentang arti dari politik. ada beberapa akademisi yang mengatakan bahwa politik kental hubungannya Dengan cara untuk merebut kekuasaan. ada yang menyebutkan bahwa politik adalah cara untuk mendapakat apa saja yang kita kehendaki.

sebenarnya artian tersebut tidaklah salah jika harus di hadapkan kedalam kehidupan praktis sekarang ini. tetapi menurut plato maupun aristoteles, politik mempunyai definisi untuk menuju kedalam kehidupan yang lebih baik (en dam onia / for a good life). nah, dalam menuju kehidupan yang lebih baik itulah membutuhkan konsep teknis. seperti konsep ideologi, konsep bernegara, dan konsep sistem pemerintahan yang bisa meningkatkan derajat hidup bernegara.

selanjutnya adalah mengapa semua orang harus mengerti politik? karena jelas, politik itu seperti darah yang mengalir dalam tubuh. jika darah ini bersih maka sehatlah tubuh kita. jika darah kita kotor, tinggal tunggulah ajal jika. begitu juga dalam tataran bermasyarakat, politik mengalir didalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. jadi orang yang memahami politik, otomatis dapat menciptakan tatanan yang bersih terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

berikutnya adalah bagaimana partai politik adalah merupakan salah satu pilar politik maupun demokrasi di negara kita, hal pertama yang harus dilakukan adalah pendidikan politik. dari kader untuk kader, dari kader untuk masyarakat.  seperti yang kita tahu sejak kecil, bahwa pendidikan adalah metode untuk mencerdaskan sesama. Dengan demikian pendidikan politik yang baik, akan membuat partai politik yang baik juga.  partai politik yang baik jugalah yang bisa membuat negara yang baik.

"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno.

Selasa, 26 Februari 2013

Sebuah Pengantar: Modal Sosial



Oleh : Wimmy Haliim, S.IP*

Modal sosial merupakan salah satu teori dalam ilmu sosial yang sangat menarik untuk dikaji dan dikembangkan, terutama di negara kita, Indonesia. Karena dengan modal sosial kita dapat membangun hubungan dengan sesama dan menjaganya agar terus ada sepanjang waktu. Dengan begitu kita dapat bekerja bersama-sama untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai sendiri, ataupun bisa dicapai sendiri tapi teramatlah susah. Hubungan yang bisa di jalin baik sepanjang waktu inilah yang bisa membuat seseorang mempunyai modal sosial yang kuat.

Dasar penting dari modal sosial adalah kepercayaan maupun jaringan sosial. Karena dengan mempunyai kepercayaan sosial, seseorang maupun organisasi otomatis akan mempunyai kepercayaan dalam masyarakat. Kemudian jika seseorang maupun mempunyai jaringan sosial yang besar, mereka akan mempunyai kesempatan untuk besar. Karena mereka berhak untuk mengetahui siapa, ataupun di ketahui siapa. Karena dari itu dalam modal sosial ada pepatah yang mengatakan “ yang penting adalah bukan apa yang kamu ketahui, namun siapa yang kamu kenal “ (Field:2010). Artinya, apa dan siapa yang anda kenal dan ketahuilah yang bermanfaat dan memperkuat modal sosial anda.

Konsep Modal sendiri hadir karena reaksi terhadapa individualisme yang juga terjadi dimasyarkat. Modal sosial adalah konsep yang mengemukakan kebersaam. Contoh yang terdekat adalah seorang pemimpin sebuah organisasi (khususnya dengan Tipologi Masyarakat Jawa) dalam mengambil sebuah keputusan. Memang dalam organisasi sebuah keputusan kebijakan akan dibicarapak pada mekanisme-mekanisme yang formal, tapi sebelum itu pasti seorang pemimpin akan berbincang dengan seseorang yang dia percaya untuk menentukan keputusan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Oleh karena itu menurut saya inti dari modal sosial terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat untuk bekerjasama membangun suatu jaringan guna mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut diwarnai oleh suatu pola relasi yang imbal balik dan saling menguntungkan serta dibangun diatas kepercayaan yang ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial yang positif dan kuat. Kekuatan tersebut akan maksimal jika didukung oleh semangat proaktif membuat jalinan hubungan diatas prinsip-prinsip sikap yang partisipatif, sikap yang saling memperhatikan saling memberi dan menerima, saling percaya mempercayai dan diperkuat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang mendukungnya 

Dengan Begitu Modal sosial (social capital) dapat didefinisikan sebagai kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama, demi mencapai tujuan-tujuan bersama, di dalam berbagai kelompok dan organisasi. Di lain sisi modal sosial adalah kemampuan masyarakat untuk melakukan hubungan dengan satu sama lain dan selanjutnya menjadi kekuatan yang sangat penting bukan hanya bagi kehidupan ekonomi akan tetapi juga setiap aspek eksistensi sosial yang lain.
*Penulis Merupakan Ketua Umum HMI Komisariat ISIP
Brawijaya Periode
2010-2011

Jumat, 14 Desember 2012

Mengkaji Perang Melalui Perspektif Psikologi

Oleh: Muhamad Erza Wansyah

Sejarah bercerita, telah banyak perang yang terjadi di dunia ini, mulai dari tingkat ras, suku, hingga negara. Selaras dengan banyaknya fenomena peperangan yang terkisahkan, banyak pula disiplin ilmu yang mengkaji peperangan dari berbagai sudut pandang dari tiap disiplin ilmu yang ada, ilmu psikologi merupakan salah satunya. Psikologi dapat masuk untuk mengkaji perang tidak lain disebabkan karena dalam peperangan, terdapat individu-individu yang merupakan subjek pembahasan ilmu psikologi.

Secara konvensional, perang diidentikkan dengan tindak kekerasan sebuah kelompok dengan kelompok lainnya. Hal ini tidak lepas dari hakikat dasar manusia yang memiliki orientasi tinggi dalam melakukan kekerasan. Sigmund Freud, tokoh psikologi ternama berpendapat, secara genetik manusia memiliki pembawaan lahiriah untuk cenderung melakukan kekerasan (Freud, 1932/1951). Bandura mengambil sudut pandang lain dalam memandang tindak kekerasan. Beliau menjelaskan, tindak kekerasan (agresi) pada manusia merupakan hasil dari belajar sosial (Bandura, 1986). Keadaan situasional dari lingkunganlah yang merupakan faktor utama manusia melakukan kekerasan.

Inilah yang menjadi dasar terjadinya peperangan. Dua tokoh di atas telah memberikan jawaban untuk pertanyaan tentang alasan peperangan yang sering diutarakan banyak orang. Sifat dasar manusia, yang cenderung berbuat kekerasan ialah kunci dari timbulnya peperangan. Namun, tidak secara mentah-mentah tindak kekerasan manusia menjadi faktor utama timbulnya peperangan. Seperti telah dibahas dalam kajian psikologi massa, gerakan massa merupakan gerakan yang diarahkan oleh seseorang atau beberapa sosok yang dianggap memiliki bergaining dalam sebuah kelompok. Sosok tersebutlah yang mendapatkan peran terpenting dalam gerakan sebuah kelompok. Oleh karenanya, seringkali tindakan kolektif dari sebuah kelompok merupakan tindakan manifestatif hasil interpretasi seseorang yang menjadi sosok dalam kelompok tersebut.

Pemaparan awal mengenai penyebab perang ditemukan dalam buku Thucydide yang berjudul History of the Peloponnesian War seputar konflik berdarah antar negara Yunani, Sparta dan Athena lebih dari 2400 tahun lalu. Thucydide seorang realist yang dianggap sebagai psikolog politik pertama, mengatakan, pemicu konflik berdarah antara Spartans dan Athenians adalah ketakutan dari kedua belah pihak. Ketakutan pemimpin Spartans yang menganggap Athenians semakin luas melakukan doktrinisasinya untuk melebarkan teritori. Serta, ketakutan pemimpin Athenians yang menganggap Spartans memiliki kekuatan militer kejam yang bertekad bersaing dengan mereka untuk mendapatkan kekuasaan tertinggi atas seluruh Yunani. Ketakutan dua pemimpin itu terlampiaskan pada pernyataan perang dari mereka. Sehingga, anggota-anggota lain yang belum tentu merasakan ketakutan yang dirasakan oleh pemimpinnya, terpaksa berpartisipasi dalam peperangan berdarah antara Spartan dan Athena.

Senin, 19 November 2012

Dimanja Teknologi, Melupakan Warisan Ibu Pertiwi

Oleh : Muhamad Erza Wansyah*

 “Ilmu pengetahuan semakin banyak melahirkan keajaiban. Dongengan leluhur sampai pada malu tersipu. Tak perlu lagi orang berapa bertahun untuk dapat bicara dengan seseorang diseberang lautan. Orang Jerman telah memasang kawat laut dari Inggris sampai India! Dan kawat semacam itu membiak berjuluran ke seluruh permukaan bumi..”

Sebuah kutipan dari novel Bumi Manusia, karangan Pramoedya Ananta Toer, menggambarkan peliknya perkembangan teknologi yang melilit dunia. Menamai dirinya modernisasi, dan melupakan sejarah yang membangunkannya. Teknologi, betapa indah harga yang didapat saat orang memilikinya. Betapa mudah memiliki waktu santai saat orang menggunakannya. Namun, betapa sakit hati leluhur saat anak-cucunya mengabaikan warisannya hanya demi sebongkah besi pintar.

Indonesia, adalah negeri yang kaya akan budaya. Bangsa yang hadir dengan beragam warna. Menghiasi dirinya dengan permata hati. Melangkah pasti dengan ramah tamah, meski memiliki banyak harta. Namun, itu dulu, saat bangsa ini belum tersentuh budaya barat, beberapa abad yang lalu, saat para pewaris kebudayaan masih bernafas. Saat ini, bangsa Indonesia sulit membuka mata untuk melihat buah dari masa lalu. Benih-benih sejarah hanya sekedar tertanam di dalam tubuh Ibu Pertiwi, enggan merawat, terabaikan sia-sia.

Air mata Ibu Pertiwi menetes tiap waktunya, membasahi goresan pena dalam buku sejarah yang berdebu tertata rapi di almari, sedangkan tumpukan buku bangsa eropa  berada di atas meja belajar anak-anaknya. Ibu pertiwi menangis, melihat garuda merintih terlukai oleh dosa anak-anaknya. Tidak ada lagi moral, tidak penting lagi nilai, yang penting punya gak susah. Manusia Indonesia, tidak lagi seputih benderanya, darahnya tak lagi semerah sang pusaka.

Di Indonesia

Indonesia dulu, bangsa yang dikenal dengan kebersamaannya. Saat lingkungan tempat tinggal dirasa kotor, warganya berkumpul, bekerja sama membersihkan daerahnya. Saat ada tetangga yang meninggal, dengan tulus warga berbondong-bondong menghibur yang kehilangan. Anak-anak bermain bersama dengan senyum polosnya. Namun, teknologi hadir, menjadikan semuanya terasa mudah. Tak perlu lelah berkeringat demi kebersihan lingkungan, masyarakat tinggal menunggu atau memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan sampah-sampah di sekitar tempat tinggal mereka. Saat ada kerabat yang meninggal, hanya dengan mengirimkan pesan singkat via telepon genggam, masyarakat sudah merasa bersimpati. Lalu, anak-anak sekarang, tak perlu lagi main bersama-sama di sebuah lahan kosong. Game online telah mempertemukan mereka di dunia maya dan cukup terbilang dapat cukup menghibur.


Senin, 29 Oktober 2012

Budaya Tradisi : Harta yang Terabaikan

Oleh : Muhamad Erza Wansyah*

Belakangan ini berkembang konsep budaya baru di tengah gejolak pergulatan ekonomi, politik, dan sosial di kalangan umat manusia. Budaya baru yang tidak memiliki pijakan identitas tetap karena selalu mengikuti kemana dan dimana minat konsumen pergi. Budaya populer, yang dikenal juga dengan istilah Pop-Culture, budaya baru yang seolah-olah telah melucuti satu-persatu nilai leluhur Rakyat Indonesia.

Budaya populer memiliki potensi besar dalam memengaruhi pandangan hidup masyarakat. Melalui keramahannya dalam menyapa minat pasar, masyarakat secara sadar maupun tidak sadar ditarik ke dalam zona nyaman bentukan budaya tersebut. Tarik saja contoh pada belantika musik tanah air. Beberapa waktu yang lalu, musik beraliran pop melayu memiliki popularitas tinggi, saat itu juga banyak bermunculan musisi-musisi yang menghidangkan lagu-lagu beraliran pop melayu. Sedangkan saat ini, akibat masuknya boyband-boyband Korea ke dalam belantika musik tanah air, bermunculan pula boyband-boyband asal Indonesia yang sedikit banyak meniru konsep boyband-boyband Korea. Hebatnya, keberadaan boyband-boyband tiruan ini dapat membuat reputasi musisi penyaji lagu pop melayu hampir membeku.

Kondisi seperti ini tidak terlepas dari minimnya pemahaman masyarakat akan dampak negatif budaya populer, budaya yang dibawa oleh bangsa barat, terhadap keberlangsungan budaya tradisi bangsa Indonesia. Jika dalam kurun waktu yang singkat saja tawaran baru dapat menggeser popularitas tawaran sebelumnya, pemberian para leluhur Indonesia yang telah lama disuguhkan, sesuatu yang telah dianggap sebagai tradisi, hanya akan menjadi dongeng yang ditulis dalam buku sejarah Indonesia. Tidak hanya itu, kemampuan berfilsafat yang rendah juga merupakan dampak negatif yang akan timbul saat penerapan budaya populer di masyarakat tidak juga diantisipasi. Pola pikir masyarakat dalam memandang sesuatu, nantinya hanya akan sebatas permukaan dan tidak lagi menjadikan kedalaman makna sebagai orientasi. Semisal para penggemar boyband Korea yang hanya menjadikan ketampanan personel sebagai alasan fanatismenya.

Indonesia adalah bangsa yang kaya. Tidak hanya di sektor sumber daya alamnya, Indonesia juga merupakan bangsa yang kaya akan budaya tradisi. Ketika sumber daya alam telah terkeruk oleh negara asing, budaya tradisi adalah harta yang harus dipertahankan. Namun, hingga saat ini kesadaran akan pentingnya budaya tradisi di masyarakat masih kurang. Masih banyak manusia Indonesia, dari strata atas hingga bawah, yang memakai kacamata populer untuk merujuk fenomena di negaranya. Padahal garis sejarah bangsa Indonesia dengan negara-negara pembawa budaya tersebut berbeda jauh. Yang lebih memprihatinkan, wabah populer juga menjangkit generasi muda, generasi yang disebut-sebut sebagai penerus bangsa, tunas dan harapan bangsa. 


Rabu, 17 Oktober 2012

Organisasi Sosial dan masalah Lingkungan


Oleh : Harisul Mahasin Makboel*

Semakin merebaknya isu tentang masalah lingkungan dewasa ini tidak lepas dari isu global warming yang juga mencuat dan terlihat cukup seksi untuk dibahas dan dikaji lebih mendalam. Meskipun demikian tidak semua orang peka terhadap permasalahan lingkungan yang sedang terjadi di tengah-tengah mereka, dan tampaknya hanya segelintir orang yang mungkin sangat prihatin mengamati kerusakan lingkungan yang tambah hari tambah menjadi-jadi di sekitar kita. Diantara orang-orang yang peduli tersebut biasanya memilih menjadi aktivis lingkungan yang tergabung di beberapa LSM dan atau organisasi lingkungan lainnya, tak jarang juga dalam aktivitasnya para aktivis lingkungan tersebut bergesekan dengan organisasi-organisasi sosial yang ada di masyarakat, misalnya dalam perjuangannya di lapangan langsung maupun juga dalam pencarian data tentang apa yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan yang terjadi di lingkungan suatu masyarakat tertentu. Gesekan-gesekan tersebut biasa timbul karena adanya perbedaan kepentingan diantara kedua belah pihak, penyebabnya lagi-lagi adalah urusan “perut”, dimana kebanyakan organisasi sosial yang justru memanfaatkan peluang di bawah bendera organisasinya maupun karena alasan yang tidak pernah mereka sadari yaitu dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan lain yang berada di balik baju kekuasaan dan legalitas organisasi yang jauh lebih besar dibandingkan organisasi sosial tersebut.

Berbicara mengenai masalah lingkungan dan korelasinya dengan organisasi, sebenarnya kita tidak bisa mematok organisasi yang bergerak dalam satu bidang tertentu semisal organisasi sosial atau organisasi lingkungan saja, tetapi kita juga harus mengikutsertakan organisasi-organisasi terkait dalam perbincangan ini, disini tak hanya organisasi sosial dan lingkungan saja yang sebetulnya terlibat, tapi juga ada organisasi politik, organisasi ekonomi dan sebagainya baik yang berskala nasional maupun sampai kepada akarnya permasalahan yaitu organisasi berskala internasional yang turun ambil andil dalam petaka yang terjadi terhadap lingkungan hidup maupun lingkungan secara menyeluruh.

Tetapi saya sendiri lebih senang mengeneralisir organisasi-organisasi yang ada tersebut menjadi organisasi sosial saja, karena semua organisasi tersebut lahir dari hasil buah pemikiran masyarakat dan juga hadir dan ada di tengah-tengah masyarakat serta ikut hidup dengan lingkungan masyarakat yang ada, meskipun organisasi-organisasi tersebut memiliki karakter yang berbeda satu sama lain sesuai dengan kepentingannya masing-masing.

Independensi dalam mengemban mission HMI

Oleh : Arga Sevtyan Vallentyno*

Di usianya yang menginjak 65 tahun sejak didirikan pada 5 Februari 1947 yang lalu HMI telah mecapai usia yang matang sebagai lembaga yang memperjuangkan nilai-nilai keummatan dan kebangsaan. Melihat dari usianya tentu HMI adalah salah satu organisasi yang mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.Sejak didirikan HMI terus memperlihatkan eksistensinya dan memberikan banyak sumbangsih besar mulai dari mempertahankan kemerdekaan sampai mengawal kemerdekaan NKRI.Hal ini tentu tidak lepas dari peran para kadernya yang senantiasa loyal dan sungguh-sungguh mengemban mission HMI sehingga HMI eksis sampai hari ini.Nilai-nilai independensi yang merupakan dasar pemikiran dan tindakan kader HMI telah melekat pada tiap diri pribadi kader disegala bidang keilmuan yang dimiliki.

Nilai-nilai dasar independensi yang menjiwai pribadi kader-kader HMI mulai ditanamkan sejak dini mulai dari proses maperca (masa perkenalan calon anggota) dan diperdalam pada waktu calon kader mengikuti Latihan Kader 1 (basic training) sampai berproses di HMI sehingga nilai-nilai independensi ini terus melekat dan terbawa dalam kehidupan sehari-hari ketika para kader sudah habis masa keanggotaannya di HMI.Maka jika ada kader yang sudah jauh dari nilai independensi ini perlu dipertanyakan status keHMIannya.

Pengertian independensi sendiri adalah Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis yang didasarkan pada obyektifitas.Menurut fitrah kejadiannya, maka manusia diciptakan bebas dan merdeka. Karenanya kemerdekaan pribadi adalah hak yang pertama. Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari pada kemerdekaan itu. Sifat dan suasana bebas dan kemerdekaan seperti diatas, adalah mutlak diperlukan terutama pada fase/saat manusia berada dalam pembentukan dan pengembangan. Masa/fase pembentukan dari pengembangan bagi manusia terutama dalam masa remaja atau generasi muda.

Mahasiswa dan kualitas-kualitas yang dimilikinya menduduki kelompok elit dalam generasinya. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis adalah ciri dari kelompok elit dalam generasi muda, yaitu kelompok mahasiswa itu sendiri. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis yang didasarkan pada obyektifitas yang harus diperankan mahasiswa bisa dilaksanakan dengan baik apabila mereka dalam suasana bebas merdeka dan demokratis obyektif dan rasional. Sikap ini adalah yang progresif (maju) sebagai ciri dari pada seorang intelektual. Sikap atas kejujuran keadilan dan obyektifitas.

Atas dasar keyakinan itu, maka HMI sebagai organisasi mahasiswa harus pula bersifat independen. Penegasan ini dirumuskan dalam pasal 7 AD HMI yang mengemukakan secara tersurat bahwa "HMI adalah organisasi yang bersifat independen.Sifat dan watak independen bagi HMI adalah merupakan hak azasi yang pertama.

Pembahasan independensi dalam khittah perjuangan selalu dikaitkan dengen kemerdekaan sebagai fitrah dasar manusia. Dalam tafsir independensi pada khittah perjuangan dikatakan:
“Secara fitrawi, manusia terlahir dengan membawa anugerah kemerdekaan dari Allah SWT. Kemerdekaan tersebut didasarkan pada anugerah Allah beupa akal dan hati yang membuat manusia memiliki kesadaran akan dirinya. Kemerdekaan yang sesungguhnya akan menjadi rahmat yang sebenar-benarnya bagi mausia bila disikapi dan diaktualisasikan berdasarkan petunjuk jalan yang benar dari Allah SWT.Kemerdekaan semacam ini bermakna pilihan yang sadar dan bertanggung jawab atas jalan hidup tertentu serta secara konsisten meninggalkan pilihan lainnya.”