Oleh : Harisul Mahasin Makboel*
Semakin merebaknya isu
tentang masalah lingkungan dewasa ini tidak lepas dari isu global warming yang
juga mencuat dan terlihat cukup seksi untuk dibahas dan dikaji lebih mendalam.
Meskipun demikian tidak semua orang peka terhadap permasalahan lingkungan yang
sedang terjadi di tengah-tengah mereka, dan tampaknya hanya segelintir orang
yang mungkin sangat prihatin mengamati kerusakan lingkungan yang tambah hari
tambah menjadi-jadi di sekitar kita. Diantara orang-orang yang peduli tersebut
biasanya memilih menjadi aktivis lingkungan yang tergabung di beberapa LSM dan
atau organisasi lingkungan lainnya, tak jarang juga dalam aktivitasnya para
aktivis lingkungan tersebut bergesekan dengan organisasi-organisasi sosial yang
ada di masyarakat, misalnya dalam perjuangannya di lapangan langsung maupun juga
dalam pencarian data tentang apa yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan
yang terjadi di lingkungan suatu masyarakat tertentu. Gesekan-gesekan tersebut
biasa timbul karena adanya perbedaan kepentingan diantara kedua belah pihak,
penyebabnya lagi-lagi adalah urusan “perut”, dimana kebanyakan organisasi sosial
yang justru memanfaatkan peluang di bawah bendera organisasinya maupun karena
alasan yang tidak pernah mereka sadari yaitu dimanfaatkan oleh
kepentingan-kepentingan lain yang berada di balik baju kekuasaan dan legalitas
organisasi yang jauh lebih besar dibandingkan organisasi sosial tersebut.
Berbicara mengenai
masalah lingkungan dan korelasinya dengan organisasi, sebenarnya kita tidak
bisa mematok organisasi yang bergerak dalam satu bidang tertentu semisal
organisasi sosial atau organisasi lingkungan saja, tetapi kita juga harus
mengikutsertakan organisasi-organisasi terkait dalam perbincangan ini, disini
tak hanya organisasi sosial dan lingkungan saja yang sebetulnya terlibat, tapi
juga ada organisasi politik, organisasi ekonomi dan sebagainya baik yang
berskala nasional maupun sampai kepada akarnya permasalahan yaitu organisasi
berskala internasional yang turun ambil andil dalam petaka yang terjadi
terhadap lingkungan hidup maupun lingkungan secara menyeluruh.
Tetapi saya sendiri
lebih senang mengeneralisir organisasi-organisasi yang ada tersebut menjadi
organisasi sosial saja, karena semua organisasi tersebut lahir dari hasil buah
pemikiran masyarakat dan juga hadir dan ada di tengah-tengah masyarakat serta
ikut hidup dengan lingkungan masyarakat yang ada, meskipun
organisasi-organisasi tersebut memiliki karakter yang berbeda satu sama lain
sesuai dengan kepentingannya masing-masing.
Pembahasan
Sebagaimana telah kita
ketahui bersama bahwa permasalahan lingkungan yang kita hadapi saat ini sudah
mencapai pada tingkatan permasalahan yang cukup serius, kerusakan lingkungan
terjadi dimana-mana tak hanya di lingkungan perkotaan saja yang bisa kita
rasakan secara nyata dengan polusinya saat ini, tapi juga pada daerah
pedalaman, pelosok, dan bahkan di daerah-daerah terpencilpun mengalami
kerusakan lingkungan yang juga bervariasi.
Kerusakan lingkungan
yang terjadi tak hanya pada Lingkungan fisik berupa krisis air, tanah, udara,
dan juga iklim saja, tetapi juga krisis
lingkungan secara biologis dan tentu saja di tambah lingkungan sosial yang
semakin parah. Krisis biologis dapat kita amati dengan memperhatikan semakin
berkurangnya lahan-lahan pertanian yang tersedia dan semakin populernya
perusahaan-perusahaan besar menerapkan sistem tumbuhan yang homogen di
lahan-lahan yang seharusnya merupakan hutan tumbuhan heterogen serta semakin
sempitnya lahan hijau akibat dari proyek pembangunan hutan-hutan beton yang
semakin gencar yang terjadi di lingkungan masyarakat khususnya pada masyarakat
perkotaan.
Kalau kita analisa dan
kita cermati kembali, Lagi-lagi, akar penyebab permasalahan yang terjadi ini
adalah tak luput dari persoalan kebutuhan ekonomi atau pemenuhan kebutuhan
perut manusia. Akibat dari keberlebihan dalam tindakan eksploitasi Sumberdaya
alam yang tersedia dan tanpa memikirkan keberlangsungan hidup jangka panjang, akhirnya
dan lagi—lagi lingkungan pun yang terus-menerus dikorbankan. Beragam bencana
alam pun sudah menjadi suatu pemandangan yang tak asing lagi yang kemudian hanya
meninggalkan bekas yang begitu mendalam bagi masyarakat itu sendiri..
Dari beberapa fenomena yang
terjadi ini seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi dan instropeksi diri kita
masing-masing untuk lebih melakukan kegiatan-kegiatan yang bijak bagi
lingkungan dan juga masyarakat, kita harus merekonstruksi pola berfikir dan pola bertindak kita sendiri.
Permasalahan yang berkutat pada tema lingkungan ada, karena perilaku dan cara
bersikap manusia itu, terutama sebagai konsekuensi interaksi manusia dengan
alam/lingkungan. Konsekuensi logis maupun materi yang didapat akibat ulah
manusia dalam pemanfaatan sumber daya alam yang berorientasi semata-mata hanya
untuk kebutuhan ekonomi manusia, kemudian juga mengesampingkan dampak-dampak negatif yang
diterima.
Industrialisasi
menjelma menjadi sebuah lifestyle atau
gaya hidup baru, manusia tidak lagi memanfaatkan sesuatu dalam jumlah yang dibutuhkan. Namun, kita sudah menjadikan
alam seolah sebagai suatu objek yang bisa diperlakukan seenaknya. Sehingga muncul
stigma bahwa, “manusia sebagai penakluk dan penguasa lingkungan.” maksud dari
Penakluk ataupun penguasa disini berarti menjadikan alam sebagai makhluk pemuas
hasrat kebutuhan manusia, yang tidak diperbolehkan berkutik sedikitpun dan
benar-benar sekedar menghamba untuk memenuhi keinginan manusia.
Studi kasus organisasi sosial dengan masalah lingkungan
Dalam makalah
tentang Organisasi sosial dengan masalah lingkungan disini kita mengambil
contoh kasus tentang KUD yang menjual pupuk an-organik kepada petani yang
sebetulnya itu berdampak buruk pada lingkungan khususnya tanah, tidak hanya
menjual pupuk an-organik mereka juga menyediakan obat pembasmi hama yang sudah
kita kenal seperti pestisida, insektisida.
Penggunaaan
pupuk anorganik itu sebenarnya tidak hanya berdampak buruk bagi tanah tetapi
juga mencemari lingkungan lainnya seperti sungai, laut dll, karena adanya
saling keterkaitan akibat saluran irigasi. Lebih parahnya lagi hal ini bereaksi
tanpa disadari oleh para petani dan pada titik puncaknya tanah mengalami
kerusakan yang cukup parah.
Dalam kasus yang
telah dicontohkan diatas, ketika kita tarik lagi dan mencari akar atau titik
sumber permasalahan adalah disebabkan oleh adanya campur tangan pihak-pihak
tertentu yang tendensius dan mereka menggunakan cara-cara yang cukup rapi. Yakni,
melalui pendekatan pada birokrat dan elit-elit pemerintahan dan kemudian
bermain pada pengaruh kebijakan, misalnya saja pemerintah Indonesia membuat
kebijakan tentang standarisasi pupuk atau dengan kata lain para kaum petani
harus menggunakan pupuk yang sudah menjadi standart dinegara ini.
Standarisasi
semacam inilah yang kemudian patut kita curigai sebagai asal-muasal kerusakan
lingkungan yang terjadi dan berdampak pada masyarakat, contoh kasus: Perusahaan
pupuk A yang notabene perusahaan besar dan selalu mencari profit atau
keuntungan, berfikir tentang bagaimana agar produk pupuk mereka laku dan
menghasilkan keuntungan? Maka perusahaan A harus kemudian membuat peningkatan
penjualan dengan biaya produksi semurah mungkin dan menghasilkan keuntungan
yang besar. Dengan prinsip itu perusahaan harus membuat efek ketergantungan
agar produk-produk pabrik A selalu laku di pasaran, dengan cara mempengaruhi
Organisasi tertinggi yang ada dan khusus pada bidang pangan dan pertanian
semisal FAO (Food and Agricultural Organization), maka FAO mengeluarkan
kebijakan tentang standarisasi pupuk yang harus dipakai para petani agar panen
mereka sukses, kemudian langkah ini diamini oleh pemerintah dan pemerintah
mewajibkan penggunaan pupuk yang sudah menjadi standart dari FAO dan bahkan FAO
mensponsori
Dari kasus ini
organisasi sosial seperti KUD ternyata secara tidak langsung memiliki dampak
yang kurang baik bagi lingkungan, meskipun tujuan utama dari dibentuknya KUD
adalah untuk mensejahterakan para petani.
*Penulis adalah Mahasiswa jurusan sosiologi angkatan 2010
dan merupakan kader HmI K ISIP UB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar